Hidupku benar-benar menyenangkan. Ya sangat menyenangkan.
Aku mempunyai teman yang sangat akrab dan selalu baik padaku, selain itu ada
seorang cowok yang sabar dan tidak pernah sekalipun membuatku marah. Mereka adalah
Clara dan Doni. Teman dan pacarku yang selalu ada dalam susah dan dukaku. Aku berteman
dengan Clara sejak kelas 1 smp dan Doni menjadi pacarku sudah 1 tahun ini. Doni adalah anak dari teman bisnis orang
tuaku, hal itulah yang membuat kami dekat hingga akhirnya pacaran.
“Minggu depan pergi ke bioskop yuk! Nonton film Star
Galaxi.” Ajakku kepada Clara.
“Oke! Bareng Doni juga kan?” Tanya Clara.
“Tentu donk” jawabku.
Pada hari yang telah ditentukan kami pergi ke bioskop. Aku
juga mengajak sepupu jauhku, Arman. Kukenalkan dengan mereka. Sebenarnya aku
punya motif sendiri mengajaknya, yaitu agar dapat dekat dengan Clara. Semenjak kami
bersahabat, Clara tidak pernah punya hubungan sekalipun itu hanya sahabat
dengan cowok kecuali dengan pacarku Doni. Setelah menonton film, malam harinya Arman
menginboxku dia meminta nomor hp dan akun media sosial milik Clara, kuberikan
padanya. Kuharap mereka akan dekat.
“Arnitta, kamu berikan nomerku pada Arman ya?” Tanya
Clara saat selesai pelajaran di kampus.
Aku menganggukkan kepala.
“Dia terus sms aku, aku nggak suka.”
“Kenapa?” Aku balik bertanya “dia baik kok, walaupun agak
usil.”
“Tapi aku....” Clara tidak melanjutkan ucapannya. Tiba-tiba
ia berubah menjadi semakin kesal.” Aku belum bisa pacaran.”
“Ya Tuhan, Clara, kamu tuh udah dewasa. Kamu harus mulai
menata hati kamu buat bisa menerima cowok. Suatu hari nanti kita juga akan
menikah, aneh bukan kalau kamu selalu menolak cowok.”
Clara terdiam sebentar. Kulingkarkan tanganku di bahunya
agar sedikit meluluhkan hatinya.
“Cobalah untuk pacaran..... Kalau kamu nggak suka Arman aku bisa kenalkan
sama temanku yang lain. Mungkin ada yang cocok nanti sama kamu.” Aku kembali
berusaha meyakinkan Clara. Namun Clara masih tetap menolak, alasannya masih
sama belum bisa pacaran.
Namun aku belum menyerah, aku tetap bersikeras menyomblangkan
Clara. Kuajak Clara mengikuti klub yang banyak cowoknya di kampus agar dia
dapat berhubungan dengan cowok. Kulihat ada satu cowok yang kadang bersikap aneh dengan Clara. Dia adalah
Joni, ketua klub kami. Sering kudapati tatapannya aneh dengan Clara, selain itu
diantara anggota lainnya kelihatannya ia yang paling baik denga Clara.
“Clara akhir-akhir ini nggak lagi bareng kita ya?” Tanya
Doni saat kami pulang bersama.
“Oh iya, dia mungkin bareng Joni.” Kataku mulai senang melihat perubahan perilaku Clara.
“Joni? Siapa?”
“Itu ketua klub dance kita, dia baik banget sama Clara. Kelihatannya
cocok sama Clara” pujiku. Aku membayangkan bagaimana jika mereka jadian nanti.
“Nggak cocok!” Kata
Doni dengan suara yang sedikit lebih keras dari biasanya.” Clara itu orangnya
paling susah kalau dideketin cowok nggak mungkinlah mereka bisa bareng.”
“Tapi kan bagus kalau Clara bisa pacaran sama Joni. Lagian
kenapa sih kamu kesal begitu, kamu itu kan pacar aku bukan pacar Clara.” Aku mendengus
kesal dan berjalan lebih cepat. Kenapa sifat Doni seperti orang cemburu gitu
sih?
Doni segera mengejarku dan berusaha meminta maaf. Tapi aku yang masih kesal
sampai malamnya tidak berbicara sama sekali dengannya. Sms dan telepon yang
masuk pun tidak kurespon sama sekali.
Tuttt...
Sebuah panggilan datang, dari Clara. Aku segera
mengangkatnya.
“Halo, Clara ada apa?”
“Arnitta aku pengen curhat...”
“Curhat, iya katakan aja apa masalah kamu aku siap
membantu kok.”
“Joni nembak aku gimana?”
Aku tersenyum senang mendengarnya.
“Terima aja. Mungkin dia cowok yang baik buat kamu.”
“Tapi Arman juga nembak aku.”
Aku terdiam sesaat untuk berfikir. Katanya dia tidak suka
Arman, tapi mungkin juga setelah perjuangan panjangnya, Arman akhirnya bisa
menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan Clara hingga dia mau menembaknya.
“Gimana ya?” Aku kembali berfikir.” Kata hatimu milih
yang mana?”
“Nggak tahu!” Jawab Clara “jujur aku masih suka sama
orang lain.”
“Tapi apa orang itu suka sama kamu?”
“Iya, sayangnya..... “ kata-kata Clara terputus
“sudahlah, aku akan putuskan hal ini besok.” Sambung Clara mengalihkan
pembicaraan dan menutup telepon.
Esok harinya aku terjebak tugas yang menumpuk, membuatku
harus betah-betah di perpus. Sebenarnya aku sangat ingin tahu jawaban Clara, tapi karena kesibukanku aku
tidak bisa kemana-mana, akhirnya setelah 4 jam lebih di perpus selesai juga
tugasku. Aku segera mencari Clara. Seperti biasa, tempat favoritnya adalah
taman. Dia sedang berbicara dengan Doni. Kupanggil mereka. Tapi tidak ada
respon juga. Rasanya ada perasaan aneh di hatiku, namun aku tetap mendekati
mereka.
“Gimana ini, Arnitta pasti curiga kalau aku nggak nerima
salah satu dari cowok itu?” Kata Clara dengan wajah lesunya.
“Enggak! Kamu nggak boleh jadian sama salah satu dari
mereka, nggak boleh!”
“Tapi Arnitta.....”
“Nggak boleh! Kamu tuh pacar aku, kamu nggak boleh sama
laki-laki manapun kecuali aku! Walaupun hubungan kita dibelakang Arnitta, tapi
kamu nggak boleh sama siapapun kecuali aku!”
Tubuhku terasa sangat panas, seperti baru saja dibakar
dengan api kepahitan. Jadi selama ini mereka selingkuh dibelakangku, dan sifat
baik mereka selama ini hanya akal-akalan menyembunyikan hubungan mereka.
PRAK! Kekesalanku berada
di ujungnya. Luapan emosiku tergambar sudah lewat tamparanku.
“Pengkhianat!” teriakku dengan kesal.
Clara yang nampak kaget berusaha menyingkirkan tanganku
ketika akan kembali menampar Doni.
“Arnitta!” Ucap Clara.” Jangan sakiti dia!”
“Sudah lepasin! Kalian sudah ngianatin aku lepas! Lepasin!”
Aku melawan tenaga Clara di tanganku.” Lepas! Ooo, jadi kamu juga mau belain Doni.
Nggak tahu malu banget ya, kamu tuh sahabat aku, aku udah coba nyari cowok buat
kamu biar kamu nggak kesepian, tapi ternyata cowok aku yang kamu ambil.”
“Kamu salah!” Clara balas meninggikan suaranya.” Aku sama
Doni udah paacaran lama, bahkan sejak kamu belum jadian sama dia. Dia itu mau
sama kamu biar bisnis orang tuanya nggak ada masalah sama orang tua kamu. Doni
tuh Cuma sayang sama aku! Dia cinta sama aku.”
“Clara kamu apa-apaan!” Bentak Doni.” Enggak, semua yang
kamu denger itu salah, Arnitta. Aku sama Clara karena dia itu saiko, dia selalu
ngancem aku. Untuk itu aku kasian sama dia” bela Doni dengan alasannya.
“Jangan sentuh aku!” Responku ketika Doni berusaha
menyentuh tanganku.
“Apapun alasannya, kalian berdua bener-bener keterlaluan.
Aku nggak nyangka orang kepercayaan aku seperti kalian bisa berbuat seperti ini
denganku!” Ungkapku yang masih kesal dan sedih. Aku pun memutuskan untuk
meninggalkan mereka. Walaupun aku masih bisa mendengar pertengkaran mereka tapi
aku berusaha untuk tidak peduli.
“Doni! Kenapa kamu bilang kayak gitu! Kamu yang nembak
aku! Kata aku aku milik kamu cuma milik kamu tapi tadi..... Tega sekali kamu
bilang aku saiko!” Kata Clara dengan kesal.
“Sudah! Cukup, kamu mengacaukan semuanya!” Jawab Doni.”
Aku emang cinta kamu, aku nggak rela kamu jadi punya orang, tapi aku juga nggak
rela keluargaku bangrut jika kehilangan orang tua Arnitta sebagai mitra
bisnisnya. Kamu pengacau!”
Hatiku benar-benar sakit. Sakit sekali. Selama ini clara
tidak pernah mengatakan tentang doni kepadaku. Dan doni pacaran hanya untuk
mempertahankan kerjasama bisnis orang tua kita saja. Benar ini adalah karma,
karma karena selalu merasa senang dan tidak pernah curiga pada orang lain
sedikitpun.