Andi adalah kelinci putih yang tinggal di desa kelinci.
Dia mempunyai 3 orang sahabat yang selalu bermain dengannya, mereka adalah
Bombon, Vivit dan Rara. Suatu hari mereka pergi ke pinggir hutan untuk mencari
buah-buahan, namun sayangnya buah yang mereka dapat hanya sedikit.
“ Bagaimana kalau kita pergi ke hutan yang lebih dalam
lagi, kayaknya buah-buahan banyak di sana.” Ajak Andi masih belum puas dengan buah yang di dapatnya.
“ Jangan, Andi bahaya! Orang tuaku bilang di sana banyak
binatang jahat.” Kata Bombon kurang setuju.
“ Iya, takut ach, ibuku juga sering berpesan agar tidak
masuk terlalu dalam ke hutan.” Sahut Rara yang kurang setuju juga.
“ Nggak ada apa-apa, percaya dech, aku sering lihat Paman
Beruang keluar masuk hutan tapi dia nggak baik-baik saja.” Kata Andi masih
tidak mau kalah.” Kalau kalian nggak mau ke sana biar aku saja yang masuk ke
dalam hutan sendirian, kalian pasti bakalan iri kalau nanti aku dapat buah yang
banyak.”
Karena kesal, Andi pun segera mengambil kerangjang
buahnya dan dengan gesit melompat ke
dalam hutan.
“ Gimana nih, Andi sudah jauh kira-kira kita temenin
nggak ya?” Tanya Bombon kepada dua temannya.
“ nggak usah, sebentar lagi juga balik, mana mungkin kan
dia berani masuk ke hutan sendirian.” Jawab Vivit.
Andi sebenarnya sudah masuk ke dalam hutan tanpa berfikir
untuk menoleh ke belakang. Walaupun lumayan gelap karena pohon – pohon yang
tumbuh sangat lebat dan besar-besar, namun Andi senang karena ternyata banyak
buah yang sudah matang di pepohonan.
“ Dimulai dari buah apa ya?” Fikir Andi “ ada mangga,
apel, rambutan, pepaya, waow kelihatannya semua lezat.”
“ Buah mangganya kayaknya enak tuh, itu dulu saja yang kupetik.”
Andi
pun meletakkan keranjang buahnya di
tanah, ia segera memanjat pohon mangga yang lumayan besar dan tinggi itu.
Ketika sedang memetik buah mangga tiba-tiba saja Andi terpeleset dahan yang
licin. Dia pun berusaha menarik tali di pohon yang mampu menahan tubuhnya agar
tidak jatuh ke tanah.
“
Tali apa ini kenapa empuk sekali ya?” Fikir Andi.
Setelah
diamati lebih jeli lagi ternyata tali berwarna hijau dan hitam itu mempunyai
kepala dan taring di mulutnya.
“
Hah ular!” Pekik Andi kaget. Ia buru-buru turun ke bawah dan berlari secepat
mungkin agar berhasil lari dari ular tersebut. Kelihatannya ular itu sangat
lapar, ia tidak menyerah mengejar Andi sampai tiba di sebuah tebing yang tidak
dikenal Andi.
“
Awas kamu kelinci kecil, jika kulihat kamu lagi, habis sudah kamu nanti.” Ancam
ular itu sambil mendesis dan pergi menjauh dari Andi.
Kwau............
Kwau................. Kwau.........
Suara
seekor burung terbang di atas tubuh Andi. Burung itu berbulu sangat lebat,
paruhnya terlihat sangat runcing dan kedua kakinya dipenuhi dengan cakar tajam.
Wah bahaya, itu elang.
Andi
pun kembali berlari secepat mungkin untuk menghindar, elang lebih berbahaya
daripada ular. Ia bisa terbang dan sangat lihai dalam menangkap mangsa.
teringat akan ketiga temannya Andi pun berteriak meminta
tolong.” Tolong! Tolong! Ada elang tolong!”
**********
“
Bagaimana ini, Andi belum kembali juga, padahal sudah lama sekali kita
menunggunya?” Tanya Bombon khawatir.
“
Iya, bagaimana kalau kita masuk ke hutan saja, aku merasa ada sesuatu hal yang
buruk akan menimpa Andi di hutan.” Usul Vivit.
“ Tapi
hutan itu kan berbahaya. Nggak mau ach.” Kata Rara kurang setuju.
“
Kamu nggak boleh begitu, ra. Andi itu kan sahabat kita, kalau dia kenapa-napa kita memang harus
menolongnya bukan?”
“
Bener itu, ra. Ayo semua kita ke hutan, kita susul Andi bersama.” Ajak Bombon.
Walaupun
sedikit takut, Rara, Vivit dan Bombon melangkahkan kaki mereka memasuki hutan.
Awalnya mereka sangat senang melihat buah-buahan yang banyak di pohon, namun
teringat akan temannya yang belum juga ditemukan, tiga sahabat itu memutuskan untuk
terus mencari Andi.
“
Andi! Andi kamu di mana?”
“
Andi! Andi”
Mereka
bertiga terus menyusuri hutan sampai terdengarlah teriakan meminta tolong dari Andi.
“ Tolong! Tolong! Tolong aku!”
“
Bukankah itu suara Andi, ayo kita ke sumber suara itu” ajak Rara pada dua
temannya.
Dengan
cepat mereka sudah sampai di tebing tempat Andi berhenti dikerjar ular,
sekarang Andi masih berusaha menghindari dari elang yang terbang dan ingin
menangkapnya.
“
Elang! Andi ayo minggir! Andi bahaya! Teriak Vivit ketika elang itu berusaha
mencengkeram Andi.
“
Andi, Andi ayo pergi cepat!” Teriak Bombon pula.
Namun
Andi benar-benar sudah kehabisan tenaganya, ia memejamkan matanya dengan
pasrah, kaki elang tersebut benar-benar tinggal sedetik lagi menyentuh tubuh Andi.
Dan....
Prak!
“
Andi kamu baik-baik saja, nggak ada yang luka kan?” Tanya Bombon yang
dilanjutkan pertanyaa yang sama oleh dua sahabatnya yang lain.
Andi
membuka matanya. Dilihatnya tiga sahabatnya telah berdiri di depannya.
“
Iya, aku baik-baik saja, di mana elang
tadi?” Tanya Andi.
“
Paman Beruang tadi tiba-tiba datang dan langsung memukulnya, karena kesakitan
elang itu pun segera terbang menjauh. Beruntung dech kamu, kalau telat dikit aja
kamu mungkin udah nggak bisa pulang lagi.” Jelas Rara.
Andi
menoleh ke sekelilingnya. Paman Beruang yang ramah sudah ada disampingnya. Andi
pun segera mengucapkan terimakasih. Mendengar hal itu, Paman Beruang tersenyum.
“
Iya, sama-sama Andi, lain kali jangan sembarangan masuk ke hutan ya. Walaupun
banyak buah-buahan di hutan juga banyak binatang buas. Jadi harus hati-hati.
Apalagi kalian masih kecil dan belum bisa melindungi diri sendiri” kata Paman
Beruang memberikan nasehat.”
Andi
pun meminta maaf kepada ketiga temannya karena telah membuat mereka khawatir.
Ia berjanji tidak akan keras kepala lagi dan akan lebih berhati-hati.