Rabu, 05 April 2017

Andi si kelinci


            Andi adalah kelinci putih yang tinggal di desa kelinci. Dia mempunyai 3 orang sahabat yang selalu bermain dengannya, mereka adalah Bombon, Vivit dan Rara. Suatu hari mereka pergi ke pinggir hutan untuk mencari buah-buahan, namun sayangnya buah yang mereka dapat hanya sedikit.
            “ Bagaimana kalau kita pergi ke hutan yang lebih dalam lagi, kayaknya buah-buahan banyak di sana.” Ajak Andi  masih belum puas dengan buah yang di dapatnya.
            “ Jangan, Andi bahaya! Orang tuaku bilang di sana banyak binatang jahat.” Kata Bombon kurang setuju.
            “ Iya, takut ach, ibuku juga sering berpesan agar tidak masuk terlalu dalam ke hutan.” Sahut Rara yang kurang setuju juga.
            “ Nggak ada apa-apa, percaya dech, aku sering lihat Paman Beruang keluar masuk hutan tapi dia nggak baik-baik saja.” Kata Andi masih tidak mau kalah.” Kalau kalian nggak mau ke sana biar aku saja yang masuk ke dalam hutan sendirian, kalian pasti bakalan iri kalau nanti aku dapat buah yang banyak.”
            Karena kesal, Andi pun segera mengambil kerangjang buahnya dan dengan gesit melompat  ke dalam hutan.
            “ Gimana nih, Andi sudah jauh kira-kira kita temenin nggak ya?” Tanya Bombon kepada dua temannya.
            “ nggak usah, sebentar lagi juga balik, mana mungkin kan dia berani masuk ke hutan sendirian.” Jawab Vivit.
            Andi sebenarnya sudah masuk ke dalam hutan tanpa berfikir untuk menoleh ke belakang. Walaupun lumayan gelap karena pohon – pohon yang tumbuh sangat lebat dan besar-besar, namun Andi senang karena ternyata banyak buah yang sudah matang di pepohonan.
            “ Dimulai dari buah apa ya?” Fikir Andi “ ada mangga, apel, rambutan, pepaya, waow kelihatannya semua lezat.”
            “ Buah mangganya kayaknya enak tuh, itu dulu saja yang kupetik.”
Andi pun  meletakkan keranjang buahnya di tanah, ia segera memanjat pohon mangga yang lumayan besar dan tinggi itu. Ketika sedang memetik buah mangga tiba-tiba saja Andi terpeleset dahan yang licin. Dia pun berusaha menarik tali di pohon yang mampu menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke tanah.
“ Tali apa ini kenapa empuk sekali ya?” Fikir Andi.
Setelah diamati lebih jeli lagi ternyata tali berwarna hijau dan hitam itu mempunyai kepala dan taring di mulutnya.
“ Hah ular!” Pekik Andi kaget. Ia buru-buru turun ke bawah dan berlari secepat mungkin agar berhasil lari dari ular tersebut. Kelihatannya ular itu sangat lapar, ia tidak menyerah mengejar Andi sampai tiba di sebuah tebing yang tidak dikenal Andi.
“ Awas kamu kelinci kecil, jika kulihat kamu lagi, habis sudah kamu nanti.” Ancam ular itu sambil mendesis dan pergi menjauh dari Andi.
Kwau............ Kwau................. Kwau.........
Suara seekor burung terbang di atas tubuh Andi. Burung itu berbulu sangat lebat, paruhnya terlihat sangat runcing dan kedua kakinya dipenuhi dengan cakar tajam. Wah bahaya, itu elang.
Andi pun kembali berlari secepat mungkin untuk menghindar, elang lebih berbahaya daripada ular. Ia bisa terbang dan sangat lihai dalam menangkap mangsa.
            teringat akan ketiga temannya Andi pun berteriak meminta tolong.” Tolong! Tolong! Ada elang tolong!”

**********
“ Bagaimana ini, Andi belum kembali juga, padahal sudah lama sekali kita menunggunya?” Tanya Bombon khawatir.
“ Iya, bagaimana kalau kita masuk ke hutan saja, aku merasa ada sesuatu hal yang buruk akan menimpa Andi di hutan.” Usul Vivit.
“ Tapi hutan itu kan berbahaya. Nggak mau ach.” Kata Rara kurang setuju.
“ Kamu nggak boleh begitu, ra. Andi itu kan sahabat kita,  kalau dia kenapa-napa kita memang harus menolongnya bukan?”
“ Bener itu, ra. Ayo semua kita ke hutan, kita susul Andi bersama.” Ajak Bombon.
Walaupun sedikit takut, Rara, Vivit dan Bombon melangkahkan kaki mereka memasuki hutan. Awalnya mereka sangat senang melihat buah-buahan yang banyak di pohon, namun teringat akan temannya yang belum juga ditemukan, tiga sahabat itu memutuskan untuk terus mencari Andi.
“ Andi! Andi kamu di mana?”
“ Andi! Andi”
Mereka bertiga terus menyusuri hutan sampai terdengarlah teriakan meminta tolong dari Andi.
            “ Tolong! Tolong! Tolong aku!”
“ Bukankah itu suara Andi, ayo kita ke sumber suara itu” ajak Rara pada dua temannya.
Dengan cepat mereka sudah sampai di tebing tempat Andi berhenti dikerjar ular, sekarang Andi masih berusaha menghindari dari elang yang terbang dan ingin menangkapnya.
“ Elang! Andi ayo minggir! Andi bahaya! Teriak Vivit ketika elang itu berusaha mencengkeram Andi.
“ Andi, Andi ayo pergi cepat!” Teriak Bombon pula.
Namun Andi benar-benar sudah kehabisan tenaganya, ia memejamkan matanya dengan pasrah, kaki elang tersebut benar-benar tinggal sedetik lagi menyentuh tubuh Andi.
Dan....
Prak!
“ Andi kamu baik-baik saja, nggak ada yang luka kan?” Tanya Bombon yang dilanjutkan pertanyaa yang sama oleh dua sahabatnya yang lain.
Andi membuka matanya. Dilihatnya tiga sahabatnya telah berdiri di depannya.
“ Iya, aku baik-baik saja,  di mana elang tadi?” Tanya Andi.
“ Paman Beruang tadi tiba-tiba datang dan langsung memukulnya, karena kesakitan elang itu pun segera terbang menjauh. Beruntung dech kamu, kalau telat dikit aja kamu mungkin udah nggak bisa pulang lagi.” Jelas Rara.
Andi menoleh ke sekelilingnya. Paman Beruang yang ramah sudah ada disampingnya. Andi pun segera mengucapkan terimakasih. Mendengar hal itu, Paman Beruang tersenyum.
“ Iya, sama-sama Andi, lain kali jangan sembarangan masuk ke hutan ya. Walaupun banyak buah-buahan di hutan juga banyak binatang buas. Jadi harus hati-hati. Apalagi kalian masih kecil dan belum bisa melindungi diri sendiri” kata Paman Beruang memberikan nasehat.”
Andi pun meminta maaf kepada ketiga temannya karena telah membuat mereka khawatir. Ia berjanji tidak akan keras kepala lagi dan akan lebih berhati-hati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar